Ada satu insiden dalam hidup gue sebagai Sekre yang sampai hari ini, masih jadi bahan tertawaan gue dan temen-temen. Ceritanya baru muncul lagi kemarin, Selasa, waktu gue lagi ngobrol sambil kerja bareng Reza dan Rizqi.

Entah gimana obrolan bisa nyasar sampai ke titik ini, tiba-tiba Rizqi nanya:

"Mba, lu kan pernah ya dimarahin si Bapak gara-gara ngeprint KTP segede kertas A4?"

Dan gue langsung, "IYA LAGI"

Oke, mari kita mundur ke TKP.


Jam 09:00 pagi.

Kantor masih adem ayem, gue lagi milihin kerjaan kayak biasa. Sampai tiba-tiba dikabarin kalau Bapak (bos gue) mau flight ke Penang jam 11 siang untuk urus dokumen bank di sana, mau tutup rekening dan butuh copy ID, paspor dan Document lainnya. Beliau minta gue samperin ke lobby apartemennya bawa semua dokumen itu, dan harus sampai jam 09:30.

Jarak kantor ke apartemen beliau? 30 menit itu kalau naik MRT dari stasiun deket kantor, lanjut lari dari stasiun MRT deket apartemennya ke tempat dia ya...

Waktu yang gue punya buat nyiapin semua dokumen dan sampai sana? Kurang dari itu.

Sekretaris amatir mode: ON.
Panik mode: ON.

Gue buru-buru nyetak semua dokumen yang dia minta, tanpa mikirin ukuran, tanpa cek preview, yang penting lengkap dan kelar. Iya, ini salah. Salah banget. Level kesalahan parah maksimal mengerikan seorang Sekretaris. Tapi waktu itu otak gue cuma punya satu misi: PRINT SEMUA, SEKARANG.

Oh iya, disclaimer penting: printer kantor gue itu laknat. Bukan tipe sret-sret-selesai, tapi tipe yang bikin ngelus dada nungguin satu lembar kelar.

Jam 09:10-an, akhirnya semua dokumen selesai dicetak. Gue sama Reza langsung lari ke stasiun MRT, ngebut lari demi ketemu Bapak tepat waktu.

Kedangdutan itu terbayar lunas, gue sampai di apartemennya jam 09:45. Di jalan pun sempet tektokan sama Driver Bapak soal jam berangkat ke Airport: kata dia, jam 10:00 dari apartemen.
Lega. Seenggaknya nggak perlu lari-lari heboh lagi.

Sampai di lobby... ternyata Bapak masih meeting online dari unitnya.

Gue dan Reza duduk di lobby, ngatur napas abis dangdutan tadi. Nunggu sampai jam 10 lewat, si Driver mulai nanya, "Bapak udah siap belum?"

Gue jawab jujur: "Masih meeting, saya di lobby, belum ketemu beliau."

Dan di situlah dimulai level panik baru. Kalau tadi gue yang panik, sekarang gantian Driver.
Gue paham sih, kan dia yang bakal nyetir, dan dia tau banget perjalanan ke airport makan waktu 40-60 menit.
Sementara flight-nya jam 11an.
Pressure sebesar Harapan Orang Tua ada sama dia.

Di tengah kepanikan itu, gue sebenernya masih sempet buka-buka dokumen yang gue bawa, mastiin semuanya lengkap. Dan Alhamdulillah, lengkap!

(Sfx: "tapi tapi tapi...")

Waktu itu, gue sama sekali nggak kepikiran bahwa hasil print KTP segede A4 itu adalah masalah. Di kepala gue: ini normal-normal aja. Yang penting lengkap, yang penting kebaca, yang penting kelar.

Jam 10:20, akhirnya Bapak turun. Beliau minta kita langsung ikut ke mobil, anter dia ke airport sambil briefing di jalan. Iya, briefing di dalam mobil yang lagi ngebut ke bandara.
Gue punya julukan buat mobil dia yang yang kita naiki itu "BYD Kematian" karena entah kenapa gue selalu ada di adegan buru-buru kalau naik itu mobil.

Disclaimer tambahan: gue adalah pemabok darat akut. Jadi bayangin situasinya, briefing penting, mobil ngebut, naik si BYD kematian, dan gue berjuang supaya nggak mabok sambil tetap kelihatan profesional.

Koordinasi kita saat itu secepat kilat.
Bapak tanda tangan semua dokumen di dalam mobil, termasuk, tentu saja, KTP versi jumbo yang belum ketahuan "Busuknya" HAHAHAHA

Sampai di airport, beliau langsung lari ke gate keberangkatan.
Gue dan Reza dianter driver balik ke kantor.
Bapak terbang ke Penang.


Besoknya : Jeng... Jeng...

Bapak udah di Bank, Penang.
Dan di situlah (mungkin) yang mana untuk pertama kalinya beliau benar-benar buka dokumen itu dengan tenang, dan ngeh kalau...

KTP dengan foto beliau, terpampang nyata, segede kertas A4.

Nggak lama, telepon masuk di HP gue

"INDAH!!! What happen with u ha? Kenapa u print KTP saya segede ini? Nggak usah sebesar ini, buat aja sesuai ukurannya. U harusnya punya common sense soal ini. U bikin saya malu kalau begini," omel beliau dengan logat Singlish khasnya.

Gue, dengan nada seadanya: "Maaf, Pak. Kemarin saya buru-buru nge-print-nya, jadi nggak sempat cek dan atur dulu."

Beliau cuma bilang, "Next time jangan gini lagi."

Gue: "Baik, Pak."

Selesai. Singkat, padat, dan gue yang kecerdasannya setara Einstein (Jujurrr) masih dalam mode "kok beliau marah, ya?" belum ngeh sepenuhnya bahwa yang gue lakukan itu rasa malunya setara dengan nyetak boarding pass ukuran 2x1 meter.

Butuh waktu lama dan obrolan kemarin bikin gue akhirnya benar-benar ngerasain kelucuan momen itu. Bayangin bisa jadi Adegan Skit Komedi antara Beliau dan Petugas Bank di Penang sana

Begitu kita bahas lagi, kita bertiga ngakak sampe nggak karuan.

"Anjir lah, KTP di-print segede itu. Mukanya beliau ikutan ke-print gede pula."

Dan sampai hari ini, kejadian KTP A4 itu resmi jadi bahan lelucon di kantor.

Jadi, untuk Bapak (kalau suatu hari baca ini) izinkan gue menyampaikan permintaan maaf yang amat tulus walaupun telat: maaf soal common sense gue yang sempat error hari itu, dan segala kekonyolan yang gue lakukan.

Pelajaran hari ini: sebelum panik nge-print dokumen penting, cek dulu ukuran kertasnya.
KTP itu ukurannya kartu, bukan poster.