Jam 11 malam. Harusnya tidur. Tapi tiba-tiba kepikiran seblak — yang kuahnya merah, wangi kencur, kerupuknya kenyal. Lalu… ya gitu deh. Panci keluar.
Banyak yang bilang ini kebiasaan buruk. Izinkan aku membela diri.
1. Kencur itu aromaterapi
Coba cium kuah seblak yang lagi mendidih. Itu bukan masakan, itu terapi. Stres seharian langsung netral.
2. Pedesnya ngehapus overthinking
Susah mikirin hidup kalau lidah lagi kebakaran. Untuk beberapa menit yang indah, satu-satunya masalahku cuma: kepedesan. Damai.
3. Murah lan fleksibel
Mau isi apa? Bebas. Ceker, makaroni, sosis, telur, kerupuk seabrek. Seblak nggak pernah nge-judge isi pilihanmu — beda sama beberapa manusia.
Seblak tengah malam bukan kelemahan. Itu keputusan sadar dari orang dewasa yang lelah.
Jadi kalau lihat aku ngiler jam 12 malam sambil ngaduk panci — itu bukan khilaf. Itu self-care. Matur nuwun, lan selamat menyeblak. 🤍